ACEH UTARA | Lintasberitaindonesia.com – Belum lama rampung dibangun, dinding gedung baru TKS Ratu Nahrisyah di Kecamatan Nisam Antara, Kabupaten Aceh Utara, sudah menunjukkan keretakan. Kondisi ini memunculkan tanda tanya terhadap kualitas pekerjaan revitalisasi satuan pendidikan yang menelan anggaran Rp801.076.000 dari APBN Tahun Anggaran 2026.

Ironisnya, cat bangunan masih terlihat baru, tetapi retakan vertikal sudah muncul memanjang pada bagian dinding. Temuan tersebut terlihat dalam dokumentasi yang diterima redaksi, Selasa (4/11/2026).
Dari kondisi yang terlihat, retakan tersebut tidak sampai menembus dinding, melainkan berada pada lapisan permukaan plesteran dan acian. Namun, untuk bangunan yang baru selesai dikerjakan, kerusakan seperti ini tetap tidak bisa dianggap persoalan biasa.
Anggaran Besar, Mutu Dipertanyakan
Berdasarkan papan informasi yang terpasang di lokasi, proyek tersebut merupakan Revitalisasi Satuan Pendidikan TKS Ratu Nahrisyah dengan rincian:
– Nilai bantuan: Rp801.076.000.
– Sumber dana: APBN Tahun Anggaran 2026.
– Pelaksana: Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP) TKS Ratu Nahrisyah.
– Waktu pelaksanaan: 120 hari kalender setelah dana diterima.
– Penyelenggara: Direktorat Jenderal PAUD, Kemendikdasmen RI.
Dengan nilai anggaran mencapai ratusan juta rupiah, hasil pekerjaan semestinya memperlihatkan kualitas yang sebanding. Bukan justru menimbulkan persoalan ketika bangunan masih tergolong baru.
Keretakan pada lapisan plesteran bisa dipengaruhi sejumlah faktor, seperti komposisi adukan, proses pengeringan, maupun teknik pengerjaan. Karena itu, pemeriksaan teknis diperlukan untuk memastikan penyebab sebenarnya, bukan sekadar menutup bagian yang retak dengan dempul dan cat baru.
Orang Tua Minta Jangan Asal Diperbaiki
Kondisi tersebut juga menjadi perhatian orang tua di lingkungan setempat. Mereka berharap bangunan yang diperuntukkan bagi pendidikan anak usia dini itu benar-benar dikerjakan dengan baik.
“Baru siap kok sudah retak? Kami lihat sendiri catnya masih baru, tetapi dinding sudah pecah memanjang. Ini gedung untuk anak-anak kami. Kami tidak minta bangunan mewah, cukup bangunan yang bagus dan berkualitas. Kalau memang ada kerusakan, tolong diperbaiki dengan benar, jangan hanya didempul lalu dicat kembali,” ungkap salah seorang orang tua.
Harapan masyarakat cukup sederhana: gedung pendidikan yang aman, nyaman, dan layak digunakan anak-anak, bukan bangunan yang baru selesai tetapi sudah memperlihatkan kerusakan.
P2SP dan Dinas Pendidikan Jangan Tutup Mata
Persoalan ini perlu segera ditindaklanjuti. P2SP sebagai pelaksana pembangunan diminta memberikan penjelasan sekaligus memastikan kualitas pekerjaan. Dinas Pendidikan Aceh Utara juga diharapkan turun langsung melakukan pengecekan, bukan hanya mengandalkan laporan administratif.
Jika ditemukan ketidaksesuaian mutu, perbaikan harus dilakukan secara menyeluruh sesuai standar teknis dan ketentuan pekerjaan. Jangan sampai kerusakan hanya disamarkan dengan pengecatan ulang tanpa menyelesaikan penyebabnya.
Rp801.076.000 merupakan uang negara yang dialokasikan untuk kepentingan pendidikan. Setiap rupiahnya harus menghasilkan bangunan berkualitas dan dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang.
Gedung baru seharusnya membawa kebanggaan bagi masyarakat, bukan justru menghadirkan tanda tanya terhadap kualitas pembangunannya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak P2SP TKS Ratu Nahrisyah belum memberikan keterangan resmi terkait keretakan tersebut. Redaksi masih membuka ruang klarifikasi dan hak jawab kepada pihak pelaksana maupun instansi terkait.
( Muhazir )
